Rabu, 06 April 2022

chp 1. Pagi

"Gelap, eh kenapa ini? apa aku tertidur??"
perlahan aku mulai tersadar dan pandanganku mulai jelas, ribut sekali, oh iya aku sedang di kelas.
tertidur lagi.. ehh lalu kemana Guru yang harusnya mengajar.?
"Udah lanjut tidur aja, mumpung tidak ada guru. "
aku menoleh kearah suara tepat disebelahku duduk, teman sebangku ku bernama Tian, potongan rambut super pendek dengan muka jutek, dalam hatiku pikir anak ini cocok jadi tentara.
"sip.. makasih tapi ntar kalau ada guru tolong ya"
kataku meminta tolong.
"iya iya. . lagian kenapa kau jadi sering mengantuk sih? " tanyanya.
"entahlah, aku rasa beberapa malam ini susah tidur"
jawabku.
"bukan karena kepikiran mbak cantik kakak kelas kan?"
ehh?? kenapa jadi mengarah kesana? aku putuskan untuk menghiraukannya dan kembali memejamkan mataku, memang sih apa kata tian 10% benar, tapi apa yang mengganjalku saat ini adalah...

11:45 malam sebelumnya.

bulan purnama, perasaanku tidak tenang, ku paksa untuk tertidur sejak jam 9 tadi tapi hasionya nihil, apakah tidak ada cara lain?? sebelum... sebelum..
"kakak, mau main?" aargghh...!!! suara itu lagi, suara menggema seorang gadis yang tak pernah ku kenal, rambut hitamnya panjang,enggunakan pakaian jadul adat jawa tradisional, parasnya cantik dan usianya seumuranku, dia telah menggangguku beberapa minggu ini.
"tidak, a-aku ngantuk" jawabku.
"hmm.? tapi kakak tidak bisa tidur kan?" jawab suara menggema itu.
aku tak bisa terus begini, aku harus tau tujuannya, seingatku kalau tidak salah ajakan bermain bisa jadi mengajak ikut ke alamnya, dengan kata lain, dia ingin membunuhku??.
"ke-kenapa kamu selalu mengajak ku,? tidak kah ada yang sealam denganmu untuk kau ajak bermain?" ku beranikan diri bertanya.
"aku nggak punya teman kak, ayah ibu hilang entah kemana, kakak perempuan yang sering lewat sini tidak pernah menjawabku saat ditanya, dan para kumpulan orang berbadan besar di daerah bambu juga tidak bersahabat" kata suara menggema itu.
bambu? apakah sekumpulan bambu liar yang tumbuh di dekat hutan belakang rumahku? aneh, aku sudah mulai tak merasa takut, lanjutnya bagaimana ya? oh ya tanya namanya.
"nama mu siapa? " tanyaku. "Intan" jawabnya singkat. "Intan, kenapa kau hanya datang saat bulan purnama?" tanyaku "loh?? kan kakak sendiri, yang hanya mampir sesekali" jawabnya. "tidak, aku terus berada disini, karena aku tinggal disini" jawabku. "benarkah? aku nggak tau kalau punya tetangga, seingatku rumahku tidak ada tetangga, rumahku terletak di pinggiran dusun jadi jarang ketemu teman main, paling hanya saat pergi ke sawah" jawab gadis itu mulai bingung.
"apa nama dusun nya?" tanyaku. "dusun durian" jawabnya singkat.
itu kan nama dusun ini, begitukah? dia penghuni dusun ini di masa lalu, dilihat dari penpilannya sepertinya dia sejaman dengan buyutku. oh iya, pertanyaan itu belum ku tanyakan.
"kenapa Intan bisa memperlihatkan diri ke aku?" tanyaku penasaran. seketika wajahnya kebingungan, dahinya mengerut tanda tidak paham hal yang ku tanyakan. "maksud kakak apa?  mata kakak sakit?" jawabnya polos.
celaka, anak ini. . . dia tidak sadar kalau dia sudah meninggal.
"Intan, sebenarnya aku juga tidak yakin, tapi kelihatan nya kamu.. " kataku ragu. aku terdiam beberapa detik...  tidak, aku tidak bisa melanjutkannya, sementara biarkan saja dia tidak mengetahuinya, aku pun tak tau efek yang akan terjadi jika dia tau kenyataanya, sebaiknya aku cari aman.
"hmm?? kakak kenapa, sakit ya?" tanya nya.
"tak apa, Intan. ngomong-ngomong intan umur berapa?"
Pada akhirnya kami mengobrol dengannya sepanjang malam, singkat cerita namanya suminten, tapi lebih sering dipanggil inten atau intan, dia tidak mengetahui banyak tentang yang dia alami, yang dia tau hanyalah suatu hari dia melihat ayahnya sangat cemas, ibunya menghilang sejak sore.
Setelah itu dunia sangat gelap, dan saat dia terbangun lagi, ayah ibunya menghilang, rumahnya sepi dan di sekelilingnya dipenuhi kabut gelap, orang yg dia temui setelah itu hanya seorang perempuan berwajah tanpa ekspresi dan sekumpulan pria besar di bawah kumpulan bambu.
Dugaanku adalah, dia meninggal dibunuh ayahnya, ibunya dibunuh dilokasi berbeda lalu ayahnya melarikan diri, ini hanyalah dugaan dan ku harap aku salah.
Sebenarnya Intan sangat baik, tapi aku tetap harus berhati-hati, beberapa dari mereka ada yang berusaha mengejarku, ada juga yang membawa parang sambil menatapku tajam, entah kenapa sebulan ini aku jadi bisa melihat mereka, mereka tidak hanya berkeliaran malam hari tapi juga siang, padahal aku pikir hantu hanya muncul malam purnama seperti Intan, yah mungkin Intan punya alasan tersendiri.

kembali ke waktu saat ini

"ar, bangun. . ada guru" Tian membangunkanku.
sontak aku terkaget dan mulai sadar dari tidurku,
"sial, padahal baru aja mulai mimpi, udah ditarik lagi oleh kenyataan" kesal ku.
apa akhirnya mungkin aku harus berkompromi dengan hal ini,? Ayah juga sering bercerita soal hal gaib kan, mungkin sebaiknya aku tanya Ayah? tidak, aku rasa ayah tak mungkin mau menjelaskannya.
ya, aku harus memulai menyelidiki nya, mulai dari buku yang disimpan ayah.

D****irumah, sepulang sekolah

Dimana ya bukunya? sepertinya ada di sekitar sini, aku mulai coba mencari di lemari pribadi ayahku, banyak kumpulan buku dan koleksi benda klenik tersimpan disini,
"Arin, jangan buat berantakan barang ayahmu" tiba tiba ibuku mengagetkanku.
"mama? eh anu nggak, cuma mau cari barangku" jawabku beralasan. "jangan bohong, mana mungkin barangmu kecampur di barang ayahmu" jawab ibuku curiga.  "nggak ini ehh yaudah mah mau kebelakang bentar" jawabku lalu berlari pergi.
Hampir ketahuan, payah malah ketahuan mama, sebaiknya tunggu malam hari saja dan jangan gegabah agar tidak ada kecurigaan, berbaring di ranjang menunggu waktu, scroll sosmed, main game, chat, tapi tetap saja pikiranku kacau.
Hingga tak terasa aku mulai terlelap, "eh, ayah?" aku melihat sosok ayah berdiri dihadapanku, dia memegang buku dan menyimpannya di lemari, buku berwarna oranye yang tampak sudah sangat lusuh.
"18 tahun" tiba tiba ayahku berbicara.
aku sontak terbangun lagi dari tidurku, tadi saat bermimpi terasa seperti akan terjatuh dari ketinggian, tepat saat ayah berkata 18 tahun. pertandakah? apa maksudnya 18 tahun itu? apakah usia buku itu? atau.. ataukah.. usia ku? tunggu, usiaku saat ini 14 tahun.
mungkinkah harus menunggu 4 tahun lagi?
tapi aku sudah mengalami hal aneh sejak sebulan lalu, meski ayah telah mendidiku agar tidak takut hantu, tapi aku tetap saja setelah mengalami langsung aku merasa takut, tidak.. aku akan tetap mencobanya malam ini, buku itu pasti mengandung jawabannya.

malam 00:45

Sudah ku putuskan, aku harus melihat isi buku itu malam ini, kalau tidak salah dalam mimpiku buku itu di sekitar sini, nah ketemu.
Tegang, takut, panik bercampur perasaanku saat membuka buku itu, halaman pertama tentang alam gaib, disini tertulis bahwa dimensi kita memiliki semacam cerminan yang berbalik dan atau paralel diantara ruang dan waktu, ini bukankah pengetahuan psuedo-scientist yang umum diketahui orang? disini juga tertulis ada lokasi atau waktu dimana ruang paralel berdekatan sehingga penghuni masing-masing dunia bisa bertemu walau sangat halus.
Halaman kedua adalah cara mengintip dan melihat alam tersebut, disini tertulis ada banyak cara yang pertama adalah menjalin kontrak dengan makhluk dari alam itu dan meminjam mata makhluk itu, cara ini sangat tidak dianjurkan karena sangat lemah, cara kedua adalah dengan menggunakan teknik pengelihatan seperti kaca benggala, atau menggunakan batara karang, cara ini juga tidak dianjurkan karena potensi berbahaya, lalu cara lainnya adalah dengan mempertajam mata batin, cara ini paling aman tetapi mempelajarinya butuh waktu lama.
Halaman ketiga adalah cara memasuki dunia gaib, hanya ada satu cara yaitu raga sukma, disini juga tertulis jika memasuki alam itu tanpa tau mempertahankan diri sama saja dengan cari mati, luka di sukma akan membuatmu kesakitan.
lanjut ke halaman keempat, jurus-jurus menyerang untuk melawan makhluk gaib, nah ini yang aku cari, tiba tiba aku mendengar suara langkah kaki, gawat.!! mama terbangun, harus cepat kembali ke kamar sebelum ketahuan.!!!

Bersambung